Minggu, 16 April 2017
Menara Siger sebagai Simbol Propinsi Lampung
Menara Siger adalah menara
yang juga menjadi titik nol Sumatra di selatan. Gubernur Lampung Sjachroedin
Z.P. dalam peresmian Menara Siger, 30 April 2008, menyatakan optimistis Menara
Siger akan mendorong kemajuan Lampung. Peresmian ini ditandai dengan penekanan
sirine, penandatanganan prasasti, serta penglepasan merpati bersama puluhan
duta besar. Dengan iringan lagu Mars Lampung oleh Korps Musik (Korsik) Pemprov
Lampung, Ny. Truly Sjachroedin menggunting rangkaian melati di pintu masuk
bangunan menara enam lantai tersebut. Gubernur memasuki menara bersama duta
besar Kroatia, Sri Lanka, Jepang, Palestina, Afghanistan, Singapura, Filipina,
keluarga Sultan Banten dan Sultan Kanoman Cirebon. Peresmian ini juga diwarnai
pembukaan stan seluruh kabupaten/kota.Gubernur
yakin Menara Siger akan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) hingga 15%.
Angka itu berdasarkan perkiraan jumlah kendaraan 3.500 unit per hari dan 15
juta orang per tahun yang melintasi Pelabuhan Bakauheni. Dengan asumsi 15
persen saja singgah ke Menara Siger, maka setiap tahun akan menghasilkan
pendapatan Rp12,5 miliar.Pendirian
Menara Siger mengawali pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) —penghubung
Bakauheni—Merak. Menara Siger terbangun di atas bukit sebelah barat Pelabuhan
Bakauheni. Bangunan tersebut dilengkapi dengan sarana informasi mengenai peta
wisata seluruh kabupaten/kota se-Lampung. Menurut Sjachroedin, Menara Siger
bukan monumen masa lalu, tetapi bangunan masa depan yang akan jadi fenomena
masyarakat Lampung.Posisi
strategis Pelabuhan Bakauheni sebagai pintu gerbang Sumatera diibaratkan
sebagai mulut naga yang memuntahkan kurang lebih 80 ribu ton hasil-hasil
pertanian per hari. Dengan penggunaan teknik ferrocement, Menara Siger dijamin
mampu menahan terpaan angin kencang. Bangunan ini merupakan karya arsitek asli
Lampung, Ir. Hi. Anshori Djausal M.T.Teknik
ferrocement merupakan pengembangan tim arsitek Menara Siger, dengan menggunakan
jaring kawat menyerupai jaring laba-laba. Pengerjaan lambang siger dan beberapa
ornamen tidak menggunakan cor-coran, namun bagian per bagian dengan tangan.
Dengan metode ini, setiap inci bangunan tahan guncangan dan terpaan angin laut.Menara
Siger kebanggaan masyarakat Lampung tersebut berada di atas bukit dengan
ketinggian 110 meter di atas permukaan laut. Pembangunan menara sejak tahun
2005 menghabiskan biaya Rp15 miliar. Menara Siger adalah simbol Lampung. Ia
bukan hanya menjadi ikon pariwisata, tetapi dapat menjadi ikon dalam segala
hal: keagamaan, seni dan budaya, pendidikan.Anshori
Djausal sebagai perancang mengungkapkan Menara Siger dapat memancing
pengembangan kawasan pintu gerbang Pulau Sumatera. Pasca peresmian akan masuk
investasi Rp100 miliar hingga Rp200 miliar. Dosen Fakultas Teknik Universitas
Lampung ini menambahkan, dalam setahun sekitar 15 juta – 20 juta orang melintas
di Pelabuhan Bakauheni. Hal tersebut merupakan sebuah potensi bagi promosi
kepariwisataan dan potensi ekonomi.Menata
Siger adalah paduan antara land mark dan pariwisata. Bagi Anshori, Menara Siger
ibarat gadis cantik yang akan memancing setiap orang untuk melamarnya.
Maksudnya, Menara Siger akan menumbuhkan daya tarik dan magnet bagi setiap
orang, termasuk daya tarik investasi.Secara
fisik, Menara Siger dibangun dengan memperhatikan ciri khas Lampung. Di sekitar
tugu dibangun ruang-ruang yang menampilkan budaya Lampung serta
sarana-prasarana pariwisata. Sebagai tugu di ujung Pulau Sumatera, Menara Siger
dilengkapi dengan tulisan penanda Titik Nol Pulau Sumatera. Menara Siger dengan
warna emas itu dilengkapi ruangan tempat wisatawan melihat Pelabuhan Bakauheni
serta keindahan panorama laut dan alam sekitarnya.Siger
adalah topi adat pengantin wanita Lampung. Menara Siger berupa bangunan
berbentuk mahkota terdiri dari sembilan rangkaian yang melambangkan sembilan
macam bahasa di Lampung. Menara Siger berwarna kuning dan merah, mewakili warna
emas dari topi adat pengantin wanita. Bangunan ini juga berhiaskan ukiran corak
kain tapis khas Lampung.Bagunan
akan berisi data asta gatra, yaitu trigatra mencakup letak geografis, demografis
dan kekayaan sumber daya alam (SDA). Berikutnya panca gatra, yaitu berisi
ideologi dan hankam. Dengan demikian para turis tidak perlu banyak bertanya.Payung
tiga warna (putih-kuning-merah) menandai puncak menara. Payung ini sebagai
simbol tatanan sosial. Dalam bangunan utama Menara Siger Prasasti Kayu Are
sebagai simbol pohon kehidupan. Menara Siger tidak hanya berbentuk sebuah fisik
bagunan, tetapi mencerminkan budaya masyarakat dan identitas masyarakat Lampung
sesuai dengan filosofi berpikir dan bertindak sesuai visi dan misi mewujudkan
Lampung yang unggul dan bardaya saing.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar